Ἀνάθεμα is a Greek term originally meaning "something consecrated or devoted to God." Kenapa artinya berubah menjadi kutukan atau ekskomunikasi?
By CopticBot.ai (Coptic Space Inc.) · Last reviewed 2026-10-10
Perubahan makna kata Anathema** dari "persembahan suci" menjadi "kutukan" atau "pengucilan" adalah proses yang sangat penting dalam sejarah teologi dan biblika. Hal ini terjadi melalui pergeseran linguistik dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, yang kemudian diadopsi ke dalam Tradisi Suci Gereja.
1. Akar dalam Perjanjian Lama (Konsep Herem)
Dalam bahasa Ibrani, kata yang setara dengan anathema adalah Herem**. Kata ini memiliki makna ganda:
- Sisi Positif: Sesuatu yang dikhususkan sepenuhnya bagi Allah sehingga tidak boleh lagi digunakan oleh manusia.
- Sisi Negatif: Sesuatu yang dikhususkan untuk dimusnahkan karena dianggap tercemar atau menjadi musuh Allah (misalnya, kota-kota penyembah berhala yang ditaklukkan oleh Israel).
Ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) oleh para sarjana di Alexandria, mereka memilih kata ἀνάθεμα untuk menerjemahkan kata Herem. Karena Herem sering dikaitkan dengan pemusnahan total terhadap penyembahan berhala agar tidak menulari umat Allah, kata anathema mulai membawa konotasi "dikhususkan untuk kehancuran".
2. Penggunaan dalam Perjanjian Baru
Para Rasul menggunakan istilah ini dengan makna yang lebih spesifik secara gerejawi. Dalam pemikiran Rasul Paulus, anathema bukan lagi soal pemusnahan fisik, melainkan pemisahan rohani. Seseorang yang di-anathema adalah orang yang dikhususkan untuk diserahkan kepada penghakiman Allah sendiri tanpa campur tangan Gereja.
Dalam Galatia 1:8, Paulus menegaskan bahwa jika ada yang memberitakan Injil yang berbeda, biarlah ia menjadi anathema. Di sini, artinya bukan lagi "persembahan yang menyenangkan di atas altar", melainkan "dibuang dari hadapan Allah".
3. Perkembangan di Masa Bapa-Bapa Gereja
Gereja Ortodoks Koptik, melalui Bapa-Bapa Gereja seperti St. Cyril dari Alexandria dan St. Athanasius, meresmikan penggunaan kata ini sebagai istilah teknis untuk ekskomunikasi tingkat tertinggi.
- Pemisahan yang Menyelamatkan: Pemisahan ini dilakukan karena adanya sosok atau ajaran yang bersifat "apostate" (murtad).
- Analogi Altar: Jika semula anathema adalah sesuatu yang diletakkan di atas altar (persembahan), maka dalam hukum gerejawi, anathema adalah sesuatu yang dilemparkan jauh dari altar (persekutuan sakramen).
4. Mengapa Gereja Bersikap Straightforward (Tegas)?
Gereja tidak menggunakan istilah ini dengan sembarangan atau sekadar untuk menjadi kasar. Kebenaran harus dipisahkan dari kesesatan secara tajam.
- Terhadap Heretik: Jika seorang heretik (seperti kaum Protestan yang menolak kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi atau kaum Yahudi yang menolak Mesias) dibiarkan dalam persekutuan, maka seluruh jemaat terancam.
- Logika St. Cyril: Dalam penjelasannya mengenai 12 Anathema, beliau menekankan bahwa menghormati Kristus berarti menolak dengan tegas siapa pun yang membagi atau merendahkan martabat-Nya. Sesuatu yang "terkutuk" adalah sesuatu yang telah kehilangan berkat Tuhan karena penolakannya sendiri terhadap kebenaran.
Kesimpulan
Perubahan makna ini adalah evolusi dari "dikhususkan bagi Allah" menjadi "diserahkan kepada Allah untuk dihakimi (karena tidak lagi pantas berada di tengah manusia)". Dalam Gereja Ortodoks Koptik, jika seseorang dinyatakan anathema, itu berarti Gereja telah melepaskan tanggung jawab atas jiwa tersebut dan menyerahkannya sepenuhnya kepada keadilan ilahi karena ia tetap teguh dalam ajaran sesat atau pengkhianatan terhadap iman para Rasul.